_William James_, seorang profesor ilmu jiwa di Universitas Harvard Amerika, mengatakan bahwa obat paling mujarab terhadap penyakit gelisah adalah keimanan. _Dr. Farrel_ mengemukakan bahwa orang yang beragama dengan sebenarnya sama sekali tidak mengeluhkan penyakit kejiwaan (mentalitas). _Deil Carneghi_ juga berpendapat bahwa keimanan yang kuat dan berpegang teguh pada ajaran agama merupakan dua kartu garansi untuk mengusir kegelisahan hati dan stres, sekaligus menyembuhkannya.
Saturday, August 13, 2011
Friday, August 12, 2011
Malaikat Rela Tak Berharga
Alkisah karena lukanya yg menerus Tuhan menjadi iba. Dikirimlah seorang manusia berhati malaikat padanya, yg menerima sebagaimana apapun ia dan berusaha sekuat tenaganya agar ia kembali senyum.
Tak sesangka apa ia harap. Sang manusia bukanlah wujud impiannya. Terbalutlah oleh Tuhan sang manusia dengan rupa tampak kekurangannya. Sang manusia dibuat layaknya seorang tiada sempurna.
Namun setak-layak apapun sang manusia, tugasnya dilaksanakan dengan baik. Tiada bagi ia tiada dihibur oleh sang manusia. Sungguhpun balutan sang manusia kiranya adalah tipu. Layak si buas, yang mana kutuknya hilang pabila dicinta.
Suatu ketika datanglah seorang asing dengan jubah kehebatannya. Memukau tentu bagi rasa yang merasa. Tersohor sangat dan pula dekat. Satu terurus yang lain tercampak. Benar nian memang adanya.
Tiada Tuhan tak mengetahui demikian. Uji-Nya memang tak ada menyangka. Ia teruji nyatanya teralih. Layak disuguh gunung mata melirik ke laut. Benar oh benar sungguh adanya.
Uji sudah berhasil dipanggillah sang manusia. Berhentilah tugas utus dari Tuhannya. Tiada harus hibur diembannya. Dan sang manusia pergi selamanya.
Wahai o kawan. Sebenarnya yang engkau kira baik belum tentu adalah baik. Tiada kita menahu siapa kira orang datang menghadap. Tiada kita menahu siapa utusan temani kita.
Wahai o kawan. Janganlah kau campak mereka yang baik padamu. Walau tak ada balas mereka diluka, merekalah penemanmu terbaik. Kala mereka pergi, kala demikian hidupmu hampa.
Wahai o kawan. Mereka bukan seorang hebat. Namun seberat jalannya tetaplah menghibur. Mereka bisa rupa orang tua, sodara, sahabat ataulah sang kasih. Sekira orang tak harga yang kapan saja bisa kau campak.
Sungguhpun kala mereka dipanggil kembali, tiada balik mereka bisa menjadi. Waktu demikian hatimu hampa. Mereka bukan orang hebat, tapi seberat apapun mereka mau menemanimu. Sungguhpun merekalah sang manusia berhati malaikat terutus padamu oleh Tuhan yang mengiba akan luka-lukamu
Tak sesangka apa ia harap. Sang manusia bukanlah wujud impiannya. Terbalutlah oleh Tuhan sang manusia dengan rupa tampak kekurangannya. Sang manusia dibuat layaknya seorang tiada sempurna.
Namun setak-layak apapun sang manusia, tugasnya dilaksanakan dengan baik. Tiada bagi ia tiada dihibur oleh sang manusia. Sungguhpun balutan sang manusia kiranya adalah tipu. Layak si buas, yang mana kutuknya hilang pabila dicinta.
Suatu ketika datanglah seorang asing dengan jubah kehebatannya. Memukau tentu bagi rasa yang merasa. Tersohor sangat dan pula dekat. Satu terurus yang lain tercampak. Benar nian memang adanya.
Tiada Tuhan tak mengetahui demikian. Uji-Nya memang tak ada menyangka. Ia teruji nyatanya teralih. Layak disuguh gunung mata melirik ke laut. Benar oh benar sungguh adanya.
Uji sudah berhasil dipanggillah sang manusia. Berhentilah tugas utus dari Tuhannya. Tiada harus hibur diembannya. Dan sang manusia pergi selamanya.
Wahai o kawan. Sebenarnya yang engkau kira baik belum tentu adalah baik. Tiada kita menahu siapa kira orang datang menghadap. Tiada kita menahu siapa utusan temani kita.
Wahai o kawan. Janganlah kau campak mereka yang baik padamu. Walau tak ada balas mereka diluka, merekalah penemanmu terbaik. Kala mereka pergi, kala demikian hidupmu hampa.
Wahai o kawan. Mereka bukan seorang hebat. Namun seberat jalannya tetaplah menghibur. Mereka bisa rupa orang tua, sodara, sahabat ataulah sang kasih. Sekira orang tak harga yang kapan saja bisa kau campak.
Sungguhpun kala mereka dipanggil kembali, tiada balik mereka bisa menjadi. Waktu demikian hatimu hampa. Mereka bukan orang hebat, tapi seberat apapun mereka mau menemanimu. Sungguhpun merekalah sang manusia berhati malaikat terutus padamu oleh Tuhan yang mengiba akan luka-lukamu
Ladang Subur Yang siap ditanami
Sebaiknya jangan menganggap Ramadhan itu sebagai bulan puasa saja, Namun anggaplah ia sebagai suatu ladang yang subur dimana siap ditanami apa saja dan memanen apa yang ditanamkan padanya. Karena buah yg ingin dipanen itu adalah taqwa bisa dipanen dari beberapa pohon antara lain:
1. Sahur (terjaga disepertiga malam terakhir)
2. Ifthor (membatalkan puasa dengan makana secukupnya)
3. Qiamullail (Sholat sunnah dua raka'at antara setelah isya hingga sebelum subuh dengan satu kali witir)*
untuk qiamullail ini sebanding dengan lelah yang kita lakukan
4. Tilawah qur'an
5. Berzikir dan berdoa (utama sebelum subuh dan setelah ashar-sebelum magrib)
6. Memperbanyak shodaqoh dan infaq serta membayar zakat
7 Memperbanyak amal baik
8. Menjauhkan diri dari yang dilarang
9. Beri'tikaf di sepuluh malam terakhir
10. Memburu lailatur Qodar
dengan menanam kesepuluh pohon tersebut diharapkan buat taqwa bisa dipetik diakhir ramadhan kali ini..
Amiin
#Catatan Tarhib Ramadhan
1. Sahur (terjaga disepertiga malam terakhir)
2. Ifthor (membatalkan puasa dengan makana secukupnya)
3. Qiamullail (Sholat sunnah dua raka'at antara setelah isya hingga sebelum subuh dengan satu kali witir)*
untuk qiamullail ini sebanding dengan lelah yang kita lakukan
4. Tilawah qur'an
5. Berzikir dan berdoa (utama sebelum subuh dan setelah ashar-sebelum magrib)
6. Memperbanyak shodaqoh dan infaq serta membayar zakat
7 Memperbanyak amal baik
8. Menjauhkan diri dari yang dilarang
9. Beri'tikaf di sepuluh malam terakhir
10. Memburu lailatur Qodar
dengan menanam kesepuluh pohon tersebut diharapkan buat taqwa bisa dipetik diakhir ramadhan kali ini..
Amiin
#Catatan Tarhib Ramadhan
Subscribe to:
Posts (Atom)
